Masih dalam euforia Final AFF kemarin. Saya masih terpukau dengan kemanisan permainan timnas. Gocekan Firman, Bachdim yang ngotot, Gonzales yang dikepung tim lawan, Bepe dengan pertandingan yang ke-86-nya, golnya Nasuha dan Ridwan. Semuanya manis. Operan-operan crossing yang hampir akurat, bisa bikin saya dan adik saya jumpalitan kegirangan ketika bola sudah dekat gawang, walaupun pada babak pertama bola hanya numpang lewat depan gawang dan ditangkap dengan keakuratan si kiper lawan. Saya tidak kecewa, saya girang.
Banyak isu yang mengkaitkan timnas dengan politik dan hal serupa lainnya. Tapi, saya yakin pemain timnas bermain malam itu bukan untuk siapa-siapa. Saya pernah dihadapkan dalam satu pertandingan final (juga), dan salah satu pelatih yang dibantu dengan si ketua UKMa mengiming-imingi saya dengan sejumlah uang jika saya berhasil memenangkan pertandingan. Coach yang mendampingi saya kala itu kebetulan bukan orang dalam kampus, jujur, dia panik ketika tahu saya diiming-imingi sejumlah uang. Dengan tenang, saya berkata..
"Tenang, coach. Saya bermain bukan untuk uang, tapi untuk kepuasan batin.."
Saya berhasil meyakinkan coach pendamping saya dan bermain dengan penuh perjuangan dengan sebuah hasil manis. Begitu juga dengan pemain timnas, mereka main dengan mainnya, untuk kebahagian dirinya sendiri, dengan hanya menoleh ke satu orang, yaitu pelatihnya (seperti yang diharapkan pada Surat Untuk Firman).
Saya memang hanya seorang perempuan, yang tidak terlalu akrab dengan dunia sepak bola. Saya hanya seorang atlet amatir, yang sering merasakan pahitnya kekalahan dan segelintir manisnya kemenangan. Saya tetap bangga dengan mas-mas pemain timnas. Aaah timnas, aku selalu padamu..!!
Cups.
Cups.


0 comments:
Post a Comment
Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~