Saturday, July 16, 2011

FlashBack: ENVY!

Usia 20-sekian kadang membuat saya berpikir ke belakang. Melongok tingkah-tingkah konyol apa saja yang (menurut saya) tidak pantas untuk saya lakukan (kembali) di usia segini dan seterusnya. Saya masih berusaha berbenah diri demi pribadi yang lebih baik.

Tahun lalu, saya melakukan hal terkonyol dalam hidup saya, yaitu iri dengan keadaan seseorang, yang sayangnya seseorang ini adalah perempuan. Andai saja orang tersebut adalah laki-laki, saya pun gak akan terlalu berlarut-larut iri dengannya karena ya kita emang udah beda bentuk dari awal. Wajar kalo nasib dan keadaan juga berbeda. Hehee.

Back to this young lady. Saya tau persis apa alasan utama yang membuat saya begitu iri dengan keadaannya, yaitu karena dia adalah pacar dari laki-laki yang dulu sempat saya sukai dengan sepenuh hati. Yaa dulu dia pacarnya, sekarang sudah gak. Yaa dulu saya suka banget banget banget sama laki-laki yang jadi pacarnya, sekarang kita berteman baik. Well, it's sooo childish, right? Entah kenapa di kekonyolan ini saya enggan menertawakannya, mungkin karena pada akhirnya saya malah memisahkan sepasang kekasih yang (awalnya) menjalani hubungan dengan baik-baik saja.

Alasan utama saya iri sama dia, ternyata, malah mempertegas ke-iri-an saya terhadap dia di sisi yang lain.
  1. Saya iri sama dia karena dia anak tunggal.
  2. Saya iri sama dia karena dia punya apa yang gak saya punya.
  3. Saya iri sama dia karena dia bisa traveling kemana aja.
  4. Saya iri sama dia karena dia dibolehin ngkost sama orang tuanya.
  5. Saya iri sama dia karena dia udah bisa bawa mobil.
  6. Saya iri sama dia karena tampilan dan posting-an di blognya lebih bagus dari saya.
  7. Saya iri sama dia karena dia dibeliin sepeda sama bapaknya.
  8. Saya iri sama dia karena dia kerja sebagai jurnalis.
  9. dan so on.
Kemudian..
Sampailah di suatu ketika saya bercerita tentang keirian saya ini ke salah satu teman terbaik saya. Dia malah bilang begini..
"Apa sii yang lo iri-in dari dia? Keadaan? Nasib? Ma, kita punya rezeki masing-masing, kenapa juga lo harus iri sama dia? Syukuri aja yang lo punya sekarang. Life is like a connecting dot. Lo belum bisa mengetahui apa yang ada di balik suatu peristiwa sebelum lo mengalaminya. Nah, berarti kan belom waktu lo buat ngerasain keadaan dan nasib kayak dia.."
Dan, memang, orang yang paling saya butuhkan ketika jiwa saya sedang kosong adalah teman saya yang satu itu. Dia berhasil meyakinkan diri saya klo selama saya masih merasa iri sama perempuan itu berarti secara gak langsung sama masih terobsesi sama laki-laki yang dulu sempat saya sukai itu. Harusnya saat itu saya sadar, status saya juga gak "single". Sebagai perempuan, gak etis juga kalo nginjekin kaki di 2 perahu yang berbeda kan?

Seharusnya saya sadar klo iri itu hanyalah salah satu penyakit hati yang berbahaya, sehingga saya bisa berpikir lebih jernih sebelum mem-publish posting yang malah membuat perempuan tersebut memutuskan hubungan dengan laki-laki yang dulu sempat saya sukai itu.

Perasaan bersalah pasti ada. Dan saya sangat merasa menyesal atas tingkah konyol saya. Entah kenapa penyesalan harus selalu datang di belakang ketika nasi telah menjadi bubur. Semoga bubur yang saya ciptakan ini bisa menjadi bubur dengan rasa spesial untuk (mantan) pasangan tersebut.

Sekarang saya baru sadar klo iri hati itu penyakit yang paling berbahaya. Ketika rasa iri masih menggebu-gebu di hati ini, perasaan itu seolah-seolah menutupi kenyataan kalo saya masih terobsesi dengan laki-laki tersebut di masa itu. Apa namanya? Gengsi ya? Hahaa. Bisa jadi.

Udah iri, pake ngebohongin hati sendiri pula. Hahaa.

Kalo sekarang? Saya sudah lebih bisa menerima semuanya. Insyaallah udah gak ada lagi iri hati ketika melihat dan mengetahui kabar tentang perempuan itu. Klo tentang laki-lakinya saya akui saya terobsesi sama dia. Dan saya sadar yang namanya obsesi untuk selamanya hanya untuk dikejar, tidak untuk dimiliki.

Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik..
Cups~

FC
Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~