Tuesday, November 22, 2011

Yang Tersembunyi di Balik Kekalahan

Saya termasuk penikmat pertandingan sepak bola yang dilakoni oleh timnas Indonesia. Mau yang senior, mau yang junior, pasti saya tonton. Dan hafal juga para pemain-pemainnya. Buat zaman kayak sekarang ini sih udah gak heran lagi kalo perempuan juga suka bola, jangan heran juga kalo nanti-nantinya Indonesia juga bakal punya timnas sepak bola wanita. Iya, perlu dipertegas memang, "nanti-nantinya" itu kapan. Mungkin setelah membenahi beberapa urusan di sepak bola pria ini terlebih dahulu.

Eniwei, seperti yang kita ketahui bersama, kemarin malam, 21-11-2011, Garuda Muda bertanding memperebutkan medali emas dengan timnas Malaysia. Walaupun berujung dengan kalah di adu tendangan penalti, tapi saya tetap merasa bangga dengan Garuda Muda, dengan coach RD dan seluruh official tim ini. Juara Umum Sea Games XXVI memang sudah pasti di tangan Indonesia, tanpa emas dari cabang olahraga sepak bola memang kurang sempurna. Tapi, peluit akhir pertandingan sudah dibawa pulang wasitnya, dan medali emas juga sudah terkalung apik di leher pemain Malaysia. So? *apa lagi ni tata bahasanya si Fatma (._.)*


Garuda Muda (Timnas Indonesia U23)


Untuk urusan kalah-dikalahkan, saya termasuk orang yang cukup banyak memiliki pengalaman dan hal ini mungkin tidak patut dibanggakan, mungkiiinn. Dari 10 pertandingan, saya hanya berhasil menang di 2 pertandingan dan (mungkin) beberapa orang bilang itu termasuk faktor hoki atau dewi fortuna yang sedang mampir ke kehidupan saya. Agak beda sih ya sama Garuda Muda yang lebih sering menangnya dari pada kalah, tapi percaya sama saya ada makna lain di balik pahitnya sebuah kekalahan. Posting ini memang bukan tentang sepak bola, bukan tentang Garuda Muda, tapi tentang kekalahan.



Ketika saya masih belia dulu, ada orang yang mengatakan ini kepada saya...
Kalo kalah ya kalah aja, gak ada alasan lain..
Saya sempet gak terima dengan statement di atas. Saya selalu mencari-cari alasan kenapa saya bisa kalah di satu pertandingan. Hampir sama dengan tipikal orang-orang yang tidak menerima kekalahan dengan hati ikhlas. That's it! Ikhlas! Bisa jadi Tuhan memberikan kekalahan kepada saya untuk memberikan mata kuliah Ilmu Ikhlas yang tidak bisa saya dapatkan teori dan prakteknya dari para pengajar di kursi sekolah dan kuliah. 

Kalo kasusnya kekalahan Garuda Muda kemarin malam gimana? 

Kalo menurut saya (menurut saya lho ya, MENURUT saya! *lha emosii..*), Garuda Muda telah memberikan yang terbaik buat bangsa ini, yang terbaik di mata Tuhan maksud saya. Terbaik di mata Tuhan memang bisa jadi berbanding terbalik dengan yang semua orang harapkan karena Tuhan selalu memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Bisa jadi Garuda Muda dan bangsa ini lebih butuh ilmu ikhlas dari kekalahan dibandingkan sebuah kemenangan yang manis. Bisa jadi lho ya.. 

Coba kita flashback ke kejadian-kejadian sebelum event Sea Games XXVI ini, antara Indonesia dan Malaysia khususnya. Insiden klaim-diklaim nya budaya dan beberapa pulau perbatasan memang tidak luput dari luapan emosi bangsa ini. Untungnya Batik telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Sisanya? Penuh dengan emosi, mending jangan dibahas.

Ibu pernah bilang di satu pertandingan yang tidak bisa saya bawa pulang medalinya satu pun, bahkan perunggu sekali pun.
Kamu dikasih kalah sama Tuhan supaya kamu gak merasa sombong dengan kemenangan. Terima aja kekalahan ini..
Balik ke Garuda Muda yang kalah. Bisa jadi kalo kita menang, kita malah jadi sombong dan lupa daratan. Kita lho ya, para pendukung, supporter, bangsa Indonesia. Bisa jadi juga ni ya, kalo kita menang, kita malah ngasih hinaan, cacian, dan makian ke tim lawan. Sombong gak tuh namanya? Malah hanya akan memperparah hubungan bilateral di kedua negara. Ilmu ikhlas katanya sih paling susah diterapkan dan dipraktekin, apa lagi buat saya. Setidaknya Tuhan menginginkan bangsa ini jauh dari kesombongan dan tinggi hati, makanya harus banyak belajar ilmu ikhlas dan mengakui keunggulan tim lawan.

Tidak hanya dituntut untuk ikhlas, kekalahan juga (kalo menurut saya ya..) sebagai sumber pembelajaran. Orang belajar dari pengalaman. Kalo udah pernah dapet pengalaman kalah, orang itu pas belajar untuk tidak ngalamin kekalahan lagi dan berusaha mendapatkan pengalaman menang. Kalo yang pengalamannya cuma kalah doang sih bisa jadi itu saya. Hehee.

Kita memang sudah berjuang dan berusaha dengan keras, tapi (mungkin) tim lawan daya juang dan usahanya lebih keras dari kita.

Baidewei, kok saya terkesan mencari-cari alasan kekalahan Garuda Muda ya? Emang udah kebiasaan, sampe kekalahan orang juga masih aja dicari-cari alasannya.. Pffftttt!

Semoga kita bisa lebih menerima kekalahan dengan positif. Semoga prestasi olahraga Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Semoga di Sea Games XXVII saya bisa membawa nama bangsa ini.. *bawa pake apa Fat? Latihan dulu kali yang bener baru boleh mimpi ke kancah Internasional* *Internasional? Antar klub aja masih sering kalah, yakaliii.. pffft banget lo, Fat* >> Lha jadi perang batin gini.. (._.)

Mohon maaf untuk kata-kata yang terkesan menggurui dan men-judge terlalu dalam. Ini hanya opini seorang pengalah (baca: orang yang terlalu sering kalah di pertandingan) tentang sebuah kekalahan yang dicari-cari alasannya.

Selamat untuk Malaysia, tetap Semangat untuk Garuda Muda.. 

Cups~

FC

*nulis posting segini panjang bisa banget, skripsi lo masih gak ada progres gitu, Fat.. Pffft banget lo!* >> Perang batin lagi.. T.T
Share:

2 comments:

  1. Pokoknya trio papua tetap dihati deh :p

    ReplyDelete
  2. tambah penjaga gawang boy, mau dong jadi bolanya.. dipeluk terus.. *eh :p

    ReplyDelete

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~