Sunday, August 5, 2012

This guy... and all of the memories

Boleh dibilang saya gak move on karena hampir tiap tahunnya saya selalu teringat akan laki-laki ini dan... saya tidak akan menyangkalnya.

Kalau bukan dari kenangan, dari mana lagi 'mereka' terasa hidup? -- inspired by Takagi's word (DC)

Memang harus disadari, this guy will never face me like before. Even for hearing his sound is so impossible to become true. Dan satu-satunya hal yang membuat terasa ada di sekitar saya adalah kenangan tentang dirinya. :')


Bermula dari pertengahan tahun 2004, dengan kesan pertama yang tidak begitu baik, saya dan dia berkenalan sebagai teman satu kelas. Dia memang tidak memiliki paras yang tampan, tapi percaya deh sama saya, dia punya daya tarik tersendiri, dengan lesung pipitnya yang dalam atau dengan kulit hitamnya dan senyum yang manis. He was totally girls-killer. Hanya beberapa orang perempuan yang memang sudah mengerti kelakuan tengilnya yang tidak tertarik dengannya, begitupun saya dan perempuan-perempuan di kelas.

Belum genap sebulan memakai seragam putih-abu, dia sudah berhasil memacari teman sekelas saya, dan bahkan berhasil menjatuhkan "bom-pesona"-nya kepada teman belajar saya. And it was to be my disaster. Teman saya itu minta dicomblangin. Itu karena saya menjadi mentor Biologinya, yang menurut teman saya itu adalah sebuah prestasi untuk bisa dekat dengan si tengil. Haha. Eniwei, dulu saya punya codename buat dia, namanya 'Kutilang'. Karena dia kurus, tinggi, dan langsing. X))

Dan... usaha mencomblangkan teman saya pun harus berakhir di tengah jalan karena si tengil ini ternyata punya pacar di sekolah sebelah. Iya, saya diperkenalkan ke pacarnya yang masih SMP itu. Otomatis, pacarnya menitipkan dia ke saya, you know what? It was like a babysitting. Rrr, another disaster, I guess.

Setelah hubungan comblang-comblangan pun gagal, saya dan dia menjalin hubungan 'bisnis', dan bukan bisnis biasa.

Saya bagian pegang absen kelas pada waktu itu, bagian yang memperingati anak-anak yang suka bolos kalau jatah absennya sudah mendekati panggilan guru BK. Di posisi seperti ini saya berbisnis dengan anak-anak yang suka bolos. Alpha bisa saya ganti jadi Sakit atau Izin, kalau mereka mau bayar tarifnya. Untuk Sakit harus bayar Rp 10,000 dan untuk Izin bisa dibayar dengan Rp 5,000 saja. Tentunya, mereka juga harus menyiapkan surat dari orangtua juga sebagai antisipasi apabila dipertanyakan guru. 

Dia termasuk yang rajin 'menyumbang' untuk saya. Hihi.

Kemudian, setelah liburan Lebaran pada tahun yang sama, saya mendapati kabar kalau dia putus dari pacarnya itu. Dan... dia terlihat sangat-sangat-sangat frustasi pada saat itu. Saya juga tidak begitu mengerti kenapa dia bisa begitu down. Padahal dia tipikal yang selalu ceria, walaupun sebelumnya habis-habisan dimarahi guru.

Sempat terdengar kabar, dia berpacaran dengan perempuan yang berjarak dua kelas dari kelas saya. Tapi, tidak lama kemudian mereka putus. Dan makin terlihat kalau dia tidak bisa move on dari mantannya yang masih SMP.

Di sela-sela jam kosong atau jam istirahat dia sering duduk di depan kelas, sendirian dengan hpnya di tangan. Sering kepergok sedang bengong oleh saya, dan akhirnya dia meminta saya untuk duduk di sebelahnya, menemani dia bengong. Biasanya saya duduk di sebelahnya sambil baca buku, atau sambil ikutan bengong. Setelah melewati hari-hari yang hening, akhirnya dia bercerita alasan dia putus. Tidak cuma di depan kelas, di dalam kelas ketika saya pindah ke mejanya, lewat sms, sampai bela-belain telepon ke hp atau rumah saya. Well, sebagai anak tunggal, sepertinya dia memang membutuhkan orang yang benar-benar mendengarkannya dan menghargai pendapatnya.

Kemudian, ada satu masa di mana saya menjadi perempuan yang paling sering adu mulut sama para lelaki di kelas. Kadang cuma bercanda-canda dan kadang bisa menjadi sangat serius. Dia... selalu datang di tengah-tengah saya dan orang yang tengah berdebat dengan saya. Selayaknya orang yang ingin melindungi saya, dia biasanya menarik saya ke belakang punggungnya dan berkata, "She's mine." dengan nada serius. Dalam kasus bercanda dengan anak-anak, saya biasanya menimpali, "Apaan sih lo?! Orang cuma bercanda yeee.." sambil berlalu meninggalkan dia dan lelaki lainnya yang terkekeh melihat tingkah saya. Tapi, untuk kasus yang serius, saya harus benar-benar berterimakasih dengan dia.. :">

Dan... pada satu hari libur Natal, dia mengirim SMS yang berisi...

Pacaran yuk. Telepon gue kalo lo mau.


Satu hal yang terbesit di pikiran saya, ini orang singit, gila, atau overpercayadiri. Mau-gak mau saya memutuskan untuk menelepon dia untuk konfirmasi dan bertanya kenapa dia mau mengajak saya pacaran. Dia cuma jawab karena saya care banget sama dia, dan dia butuh orang seperti saya saat itu. Pada saat itu, saya masih menjadi pribadi yang mudah luluh karena simpati. Iya, saya simpatik sama dia yang orangtuanya bekerja dan tidak punya waktu untuk sekedar mendengarkan pendapat anaknya. Setelah memutuskan untuk memikirkan jawaban selama tiga hari, saya putuskan untuk mengiyakan ajakannya.

Bukan, ini bukan akhir dari posting ini, karena saya dan dia hanya berpacaran selama 1 bulan lewat 1 minggu. Rekor baru untuk pacaran dengan teman satu sekolah dan satu kelas. Haha.

Setelah berhasil mengurangi jatah rokok dan jatah bolosnya selama pacaran sama saya, dia kembali seperti semula setelah putus dengan saya, bahkan lebih parah. Dan saya memutuskan untuk tidak peduli dengan keadaannya, toh kalaupun dia butuh teman cerita, dia bisa menghubungi saya kapan saja.

Tahun-tahun mengenal dia pun berlalu dengan cepat. Banyak hal yang menghampirinya. Berpacaran dengan anggota geng cewek ter-famous di sekolah, bullying teman di kelas seberang, di hukum di lapangan karena terlambat, pindah sekolah tapi masih sering nongkrong di depan sekolah, dan pindah keluar kota.

Suatu siang, saya tengah menunggu angkot dan beberapa teman yang masih jajan, dia menghampiri saya. Melihat dia jalan ke arah saya saja rasanya seperti ingin berbalik badan dan kabur menjauhi dia. Tapi, akhirnya saya putuskan untuk stay cool, pura-pura tidak menyadari kedatangannya. Kemudian...

Dia: "Hai, Fatma..." (masih dengan senyum yang sama seperti saat awal saya bertemu dengannya)
Saya: "Hai."
Dia: "Boleh salaman gak?"
Saya: "Buat apa?"
Dia: "Salaman aja. Boleh ya?" (dia sudah menjulurkan tangannya)
Saya: "Oke." (saya jabat tangannya dan ingin segera menarik tangan begitu sadar dia berusaha buat menahan tangan saya)
Dia: "Gue mau pamit." (masih dalam posisi bersalaman)
Saya: "Yaudah kalau mau pulang, gue juga mau pulang."
Dia: "Bukan, gue mau pindah sekolah..."
Saya: "Gue udah tau kali lo pindah ke SMA X."
Dia: "Gue mau pindah sekolah ke luar kota."
(hening sesaat)
Saya: "Ke mana?"
Dia: "Medan."
Saya: "Sama siapa?"
Dia: "Sama bokap, pindah tugas ke sana."
Saya: "Baguslah..."
Dia: "Huh?"
Saya: "Iya, semoga lo bisa lebih disiplin di sana ya."
Dia: "Thanks."
Saya: "Sekarang gue yang pamit pulang ya. Take care di sana." (sambil melepaskan jabatan tangannya)
Dia: "Bye, Fatma."
Saya: "Bye."

Dan itu percakapan terakhir kami. Sentuhan terakhir yang bisa saya rasakan dari tangannya selalu hangat.

Satu tahun berlalu, saya melanjutkan kuliah di tempat yang sama dengan teman sebangkunya dan mendapati kabar meninggalnya dia tepat seminggu setelah saya berkata seperti ini ke teman sebangkunya itu...

Kangen gak sih sama dia? Kapan ya dia balik ke Jakarta? Lucu gak sih kalo gue balikan sama dia?


Dan kabar duka yang datang di Jum'at pagi itu menimbulkan berbagai penyesalan yang mendalam di diri saya. Andai di pertemuan terakhir kami, saya bisa lebih ramah, bisa lebih responsif, bisa lebih menginginkan dia.

Sejak saat itu tidak ada lagi sms dan telepon dari dirinya, tidak ada lagi choey choco dingin dari sakunya, tidak ada lagi kata-kata take care yang selalu jadi favoritnya di akhir obrolan, tidak ada lagi senyum nakalnya, tidak ada lagi wangi cologne-nya yang khas, tidak ada lagi sosok yang meminjam buku catatan fisika, tidak ada lagi yang meminjam hp Nokia 3210 untuk main game Snake, dan tidak ada lagi yang mengucapkan "she's mine" setegas dia.

Dia pernah hadir di mimpi saya.Bukan sosoknya, hanya sebuah suasana yang terkesan untuk dia. Suasana dingin, kelam, dan kesepian. Mengingat sejak mendengar kabar meninggalnya saya belum mengirim doa sama sekali, keesokan harinya saya putuskan untuk mengirimkannya doa selama seminggu penuh. Dan dia hadir di mimpi yang lain, dengan sosoknya. Dia berdiri di depan saya dan berjabat tangan dengan saya. Kali itu saya yang ingin menahan tangannya. Dia hanya tersenyum, seolah berkata "I have to go" dan dia tak tertahankan lagi, pergi sambil tersenyum. Hanya mimpi, tapi kok kayaknya daleeeeem banget kesannya.. :')

May you rest in peace, dear Anggayana Walirimba. You will always live here, in my memories of you.

Love,
FC
Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~