Wednesday, September 19, 2012

What if...

Belakangan ini, saya tengah disibukkan dengan perandaian yang mampir di pikiran saya. Apa yang terjadi jika dahulu sekali, ketika saya pertama kali belajar untuk memutuskan sesuatu, saya mengambil keputusan yang jauh berbeda dari yang sekarang saya jalani? Apakah dampaknya berbeda dengan jalan kehidupan saya? Atau memang ujung-ujungnya saya tetap akan menjalani kehidupan yang seperti ini? Tidak ada yang tahu, saya pun tidak berani menerka-nerka. Prinsip saya sih apa pun yang telah saya putuskan di masa sebelumnya, mau hasilnya baik atau kurang baik, saya tidak ingin menyesalinya. Toh sudah lewat, gimana mau menyesali? Apa kita punya hak untuk memutar waktu kembali dan membuat keputusan itu menjadi yang baik bagi kita dan orang-orang sekitar kita? :)

Tapi, yang namanya pikiran iseng memang suka menghampiri diri saya. Entah hari ini, entah kemarin, saya tengah meniti titik-titik keputusan dalam hidup saya, membayangkan apa yang terjadi jika saya tidak mengambil keputusan tersebut. Hehe.

*

Hal yang pertama sekali terlintas adalah... apa yang terjadi jika saya tidak memutuskan untuk bersekolah di SMA di bilangan Jakarta Timur itu? Tentu saja saya belum tentu akan mengikuti ektrakurikuler taekwondo dan tidak akan mewakili sekolah dalam olimpiade sains mata pelajaran komputer sampai 100 besar DKI Jakarta. Selain itu, belum tentu juga saya dapat undangan tes masuk beasiswa di kampus saya. Ngggg... mungkin dapat undangannya, tapi bisa jadi saya yang tidak tertarik. Hehe.

Kemudian... apa yang terjadi ketika saya hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, saya lebih memilih perguruan tinggi negeri di Jakarta? Hal yang utama adalah saya mungkin tidak akan mendapatkan beasiswa full sampai lulus, dan adik saya bisa saja tidak melanjutkan sekolah. :') Bisa jadi saya tidak akan melanjutkan taekwondo, bisa jadi saya tidak direkomendasikan untuk ikut POMDA, bisa jadi saya lulus lebih cepat, bisa jadi saya tidak bertemu WPJ, bisa jadi.... :')

Taekwondo BSM2007
POMDA 2008 with BSM
WPJ girls

Lalu... apa yang terjadi jika di awal tahun 2008 saya tidak berpisah dengan unit awal saya? Sudah sangat dipastikan saya tidak akan bisa langgeng berteman baik dengan "kardus". Untuk masalah bertemu, ya pasti kita akan bertemu, tapi dengan suasana yang tidak memungkinkan untuk saling bercanda dan tertawa seperti saat ini. Bisa jadi saya belum bisa ujian kenaikan tingkat, bisa jadi langkah-langkah keluar unit sangat diatur oleh pelatih kepala, bisa jadi... :|

"kardus"

Apa yang terjadi jika di pertengahan tahun 2009 saya memutuskan untuk ikut kelas akselerasi? Bisa jadi saya sudah lulus sejak awal tahun 2011 dan sekarang sudah dengan pekerjaan yang mantap. Bisa jadi saya mengundurkan diri dari tim POMNAS DKI Jakarta, otomatis saya tidak berkesempatan untuk mencoba jalan-jalan sambil bertanding di Palembang. Bisa jadi saya benar-benar sudah menyingkirkan taekwondo dari kehidupan saya... :')
Tim 'Lima' POMNAS DKI Jakarta

Apa yang terjadi jika saat itu saya tidak memilih untuk berpacaran dengan senior sekaligus kapten tim? Tentu saja tidak ada pihak yang terluka. Tidak ada teman-teman yang memilih untuk berjalan di jalannya masing-masing. Bisa jadi saya masih sering dikira pacaran dengan teman bercanda saya. Bisa jadi saya lebih lepas terhadap perasaan yang berantakan ini. Bisa jadi... :)

Apa yang terjadi jika...

*

Ada perasaan aneh memang ketika menelisik ke belakang, ke masa lalu. Saya telah meniti titik-titik kehidupan saya yang seperti ini dan saya belajar banyak hal mengenai kesempatan yang tidak muncul dua kali, mengenai persahabatan, mengenai perkembangan sikap, mengenai konsistensi terhadap satu bidang, dan mengenai pertemuan dengan orang-orang baru yang bisa memberikan perubahan terhadap diri saya.

Saya sangat bersyukur dengan apa yang telah saya pilih, dengan apa yang telah saya lalui, dengan apa yang telah saya dapatkan.

Semoga tidak ada lagi penyesalan terhadap masa lalu.

Love,
F
Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~