Pernah kepikiran gak sih kalo kita itu sering kali cuma mandang dari satu sudut? Saya sering. Kemudian saya tersadar, saya ini kok egois banget ya mandang satu masalah dari sudut pandang saya melulu. Iya gak sih? Kalo kata saya sih iya. :|
Seperti masalah hati yang tengah menghinggapi saya belakangan ini, beberapa hari belakangan saya tersadar kalo yang merasa tersakiti bukan cuma saya, ya karena tiba-tiba saya (juga) tersadar kalo masalah hati gak melulu tentang saya.
Sejak dua tahun yang lalu, kurang lebih, ketika saya mengalami perpisahan dengan orang terkasih, saya selalu berpikir dialah yang menyakiti saya. Dia bukan yang terbaik untuk saya, kata kebanyakan orang. Saya tahu itu notabene hanya untuk menghibur saya saja. Bagaimana kalo kenyataannya ternyata sayalah yang bukan terbaik untuk dia? Nah? Gak pernah kepikiran kan? :p
Coba dipikir-pikir ya, hampir semua tulisan mengenai hurt-things dalam hidup saya selalu menyalahkan sikap dia yang telah mengabaikan saya. Padahal, bisa saja dia bersikap seperti itu karena ulah saya, iya karena saya terlalu cuek untuk ukuran perempuan. Terlalu cueknya kebangetan pastinya sampe dia bisa berubah sikap, iya kan?
Bukan, saya bukan menyalahkan diri saya sendiri karena perpisahan kita. Tapi, saya setengahnya sedang mencoba untuk intropeksi diri karena belakangan ini saya merasa kok gak rela (banget) dia sudah punya pasangan yang lebih mengerti dia. Dan akhirnya, tersadari juga bahwa saya yang memang tidak bisa seperti pasangannya yang sekarang.
Semua perasaan terluka yang saya rasakan bukan salah dia kok. Itu pasti salah saya, salah saya yang punya perasaan terlalu dalam buat dia. X))
Dulu, ketika saya dan dia baru berpisah sekitar 6 bulan-an, saya pernah berkata begini ke seorang teman yang menyarankan untuk balikan...
"Kalo balikan, gue gak bisa bilang banyak. Terlalu banyak yang udah berubah dan kalopun kita bareng lagi, perasaan kita udah gak sama. Setengahnya perasaan gue lebih ke simpati karena dia gak punya temen berbagi, bahkan ke gue pun dia gak mau berbagi. Kita cuma seneng-seneng, gak pernah ngomongin susahnya dia. Makanya itu, gue lebih milih single dulu sampe dia punya pasangan duluan. Jadi gue bisa liat pasangannya yang sekarang lebih baik dari gue apa gak. Kalo gak lebih baik yaa gue suruh putus aja. Hahaha."
Saya gak nyangka kalo omongan bercandaan seperti di atas bisa kejadian beneran. Dan ini mungkin sudah saatnya saya untuk mengikhlaskan dia dengan pasangannya yang sekarang. Setidaknya saya tahu dia sudah bisa berbagi cerita dengan orang lain, dia sudah mau berobat ke dokter ketika sakit, dan menjadi pribadi yang lebih baik sejak menjalin hubungan baru.
Sudah saatnya buat saya buat melepas status single juga kan? :p
Forgive me for all judgment about you, I should be happy for you, always be happy for you. :)
Love,
F
0 comments:
Post a Comment
Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~