Thursday, January 30, 2014

030/365

It's the day, his last day work at office, then he will leave the company. I'm gonna miss his existence in that corner, in his desk. Dan kenapa saya baru bisa tau dia lebih dekat di hari-hari terakhirnya di kantor? *nangis di pojokan*

Saya jadi mau share tentang first impression ketika pertama kali ketemu dia. Boleh ya? Boleh dong, kan ini blog saya. Suka-suka saya dong. :)))

Jadi gini... Sebelum saya dimutasi ke divisi lain, I used to be one of the presdir's assistant, especially for his reseach. Nama papa muda sudah familiar di telinga saya karena boss saya sering menyebutkan namanya. Tapi, saya gak pernah tau wujudnya seperti apa pada saat itu. Prediksi saya, paling tipe-tipe seperti manajer GS ataupun manajer cost control, dan saya pada saat itu juga gak penasaran sama dia. Karena apa? Karena saya pikir buat apa? Toh selama ini kerjaan saya gak ada hubungannya sama dia.

Hingga suatu hari di hari Jum'at, 2 minggu setelah saya dimutasi, hari dimana boss saya harus ujian pra promosi. Boss and I was panic because we couldn't print the handouts of presentation anywhere. When in doubt, my boss called papa muda, asked him where the place that we could print 90-something slides. Then, he suggested to print at office with his printer. So... My boss asked me to meet him for printing the handouts. Apa mau dikata, saya gak bisa menolak karena saat itu posisinya cuma saya yang lagi bareng bapak. Mas partner lagi di apartemen boss dan sekretarisnya sedang sakit. Dengan muka panik, boss saya menitipkan tugas negara nya ke saya, "Fatma, titip ya dibuat 9 rangkap. Minta tolong sama papa muda, bilang saya yang butuh urgent, harus selesai setelah sholat Jum'at ya. Kamu tau papa muda yang mana kan?". Saya cuma senyum supaya hati boss saya tenang, saya bilang "Tau pak, kayaknya pernah ketemu sekali". Jangan sampe si boss tau kalo saya gak ada bayangan sama sekali wujudnya si papa muda kayak apa... :s

Mobil boss saya gak masuk sampe depan lobby kantor, jadi setelah turun di depan pos satpam dan memastikan mobil bapak sudah putar balik, saya langsung lari masuk ke kantor. Bodo amat sama orang-orang yang ngeliat saya dengan heran. That was the first day of jersey day in my office, and I was the only one that didn't wear jersey, kemeja hitam garis-garis dengan lengan yang digulung sesiku. :|

Setenang-tenangnya saya di depan bapak, akhirnya panik juga. Karena saya gak tau orang yang mana yang harus saya temui, and my time was running out. Setelah mencari ke sana kemari dan baru ketauan kalo ternyata si papa muda belom sampe di kantor. God, You were kidding me, right? Berhubung waktu saya benar-benar sempit, akhirnya ada yang mengusulkan untuk print 5 rangkap di luar kantor. Sisanya tetap nungguin si papa muda.

Pada akhirnya, saya memang harus menghadapi si papa muda yang belum ketauan wujudnya itu. Kesan pertama ngeliat tampangnya adalah kok masih muda? Kok gak pernah ngeliat mukanya? Ini beneran manajer? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang kemudian saya kubur dalam-dalam karena saya harus melancarkan misi mulia demi lancarnya ujian bapak. 

Saya langsung serbu dia dengan segala macem penjelasan handouts yang harus diprint dan bikin berapa rangkap. Dia cuma manggut-manggut sambil bilang "iya.. iya.. oke.." Dan yang bikin gemesnya adalah dia nawar jumlah yang mesti diprint di tempatnya. Udah ditawar pun, ujung-ujungnya gak jadi karena printernya error di slide ke 30 dan print di luar semua. Ya Allah, you got me crazy maaaass...

Bermodal pengalaman itu, saya jadi punya pikiran yang gak-gak sama papa muda. Jadinya sinis gitu aja kalo ngeliat dia, gak mau tau lah dia mau kayak apa pun. Dan saya sepertinya memang harus mengurangi kebiasaan "judge a book by its cover" ya. Beruntungnya dia punya media yang akhirnya membuka mata hati saya. Pikiran-pikiran saya tentang dia sebelumnya ternyata berbeda 180 derajat dengan keadaan realita yang telah dia hadapi. Bikin  malu hati gak sih? Salah satu resolusi 2014: mengurangi menilai orang dari luarnya. ._.

Anyway, it's his last day. I'm not good in make a conversation with him, but i wish i have one chance to talk. Even though I don't know what we'll be talked about, at least I won't be curious anymore.

Follow tl twitternya, berteman di path, sampai punya nomor hp nya itu udah sangat sangat sangat lebih dari cukup buat saya. Saya selalu berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang untuk menghindari rasa kecewa yang sudah saya hafal rasanya. Saya belum terlalu dekat dengannya, 10 hari waktu yang terlalu singkat untuk mengenal orang. Dan saya sudah menceritakan sisi terkelam dari diri saya. Sebelum tanggal 20 Januari, sebelum saya dan dia memulai interaksi yang bikin jungkir balik, hidup saya berjalan baik-baik saja. Sepuluh hari ini pun sama baiknya dengan hari sebelumnya, hanya saja ditambah bonus yang lebih berwarna. Setelah hari ini pun seharusnya saya akan baik-baik saja kan? Dan memang harusnya semakin membaik kan karena saya sudah mengenal dia? Wish you a goodluck mas.. :')

xoxo,
F

Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~