Saturday, March 1, 2014

060/365

Once papap muda said to me that he doesn't have access to his son's heart, so does his mom to his heart. Pada saat itu saya setengahnya agak menyayangkan keadaan yang seperti itu. Di rumah saya terbiasa menceritakan apa pun ke orang tua dan saudara, jadi kemungkinan mereka gak tau apa isi hati saya itu sangat kecil. Itu pikiran saya pada saat itu yaa, tapi semalam sepertinya saya disadarkan kembali bahwa kata-kata papap muda ada benarnya.

I've tried to play my role being the part of my family. It is not easy, anyway. Mau saya cerita apa pun dan kayak gimana pun, orang rumah tetep gak bakal tau apa yang saya rasa sebenarnya. Mereka mungkin menilai hati saya dari yang mereka lihat selama ini. Kata ibu, saya selalu ceria karena saya selalu tertawa dan bertingkah konyol. Saya terlihat tanpa beban dan riang. Mom, it's for you, I won't let you worry about me. Karena saya gak mau nambah-nambahin pikiran ibu bapak abang dan adek saya. Like papap muda said, my mom also doesn't have access to my heart. Ibu gak tau apa yang telah saya lalui di kantor. Diomelin atasan kah? Dikerjain supervisor kah? Kerjaan numpuk? Atau tidak bersemangat buat berkreasi? Ibu gak tau. Mom just knew that i'm having fun in the office. Ada aja cerita saya ketemu mas lanang kah, atau makan eskrim, atau dijajanin cokelat, atau jalan kaki sambil cerita-cerita pas jalan pulang.

Prinsip saya gini, secapek dan se-stres apa pun saya di kantor, begitu saya melangkah ke pintu rumah saya harus masang muka dan senyum default. No, i'm not faking the smile yaaa, it's default. :)))

Dan sekali lagi, kata-kata papap muda kembali mengkonfirmasi keadaan di sekitar saya. People don't have access to the others' heart. Dan mengungkapkan apa yang ada di hati itu bukan perkara mudah, semudah membalikkan telapak tangan. :)

Wish the good things always come to you, papap muda.

xoxo,
F
Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~