Thursday, February 19, 2015

Page 50 of 365 : Rainy and memories

Buat seseorang yang sendiri seperti saya, hujan itu selain menyenangkan juga berbahaya. Rentan akan potensi galau berlebihan karena dapat memicu kenangan yang telah terkubur dalam. Tsaaaah. Yang sudah terlalu lama sendiri memang omongan gak jauh-jauh soal hati. Untungnya, tahun ini walaupun Jakarta banjir lagi, seenggaknya saya gak banjir air mata. Kenangan yang muncul tidak lagi menyakiti hati yang rentan patah ini. Ahahaha. Cuma bikin rindu siih.. :">

Yang pertama, papap. Kalau dihitung-hitung memang udah agak lama juga gak kontak papap. Terakhir kontak itu pas aa mesti CT scan karena sakit kepala. Seinget saya sih itu yang terakhir karena satu dan lain hal entah kenapa saya belum kontak papap lagi... Sebenernya sepulang saya dari Jogja adalah salah satu moment yang bisa saya pakai untuk menghubungi papap, cerita tentang bagaimana 6 bulannya ibu di sana dan keinginan baru ibu. Tapi, seperti yang udah-udah, saya gak mau bergantung dengan siapa pun, termasuk papap. Bukan berarti saya memutus kontak juga sih, tapi gak mau aja saya dianggap orang yang mau kontak ke papap cuma pas ada perlunya aja atau cuma pas lagi susyah aja. Well, memang sih sejauh itu saya memang kontak ke papap cuma buat curhat, minta pendapat, dan minta pembenaran. Walaupun selama itu pun, papap gak pernah keberatan untuk tetap kontak dengan saya yang jelas-jelas complicated hidupnya. Hehehe. Tapi, saya jadi gak enak hati. Yang berarti saya harus rela kangen sama pendapat dan perhatiannya papap.

Yang kedua, mamase. Dia temen saya sejak tahun 2007, saya sempet underestimate sama dia gegara latar belakang sekolahnya. Simple sih karena saya gak suka sama sekolahnya, makanya pikiran saya sih semua lulusan sana sama aja. Cuma sekumpulan anak gaul yang lupa pake otaknya. Dan... pada tahun yang sama pun saya dikagetkan dengan kenyataan di depan mata. He is not as bad as I thought, even he is so faaaaaar away from being a bad guy. Dia gentle, cerdas, dan sense of humor nya itu lho yang bisa bikin cewek-cewek nempel sama dia. Dia sempet hidup di luar pulau selama 3.5 tahun dan balik kembali ke kota yang menurut dia ruwet ini. Dan satu kehormatan buat saya sebagai orang pertama yang dia temui sejak sekembalinya dia dari pulau seberang. Pekerjaannya yang sekarang pun gak jauh beda dengan lalu, masih harus keluar pulau terutama pulau di timur Indonesia. Yang berarti keberadaannya di kota ini pun cuma 1-2 minggu setiap bulannya. Sisanya bisa saja dia terbang ke pulau yang perlu dia kunjungi. Pertemuan terakhir kami agak kurang mengenakkan di sisi saya, karena saya baru sadar kalau kehilangan kartu atm yang masih ada sisa gajinya. Mana gajian berikutnya masih lama pula. Setelah kasih saran untuk telpon call center bank, dia malah traktir makan malam. Semoga dia gak berpikiran kalau ini akal-akalan saya buat ditraktir makan malam sama dia. Kayaknya sih gak, I know him for a long time and he doesn't change at all. Kecuali, kebiasaan moody nya udah gak lagi dan lebih ceria. Beruntung deh calon istrinya, eh... tapi belum ada ya? Ok, ralat. Beruntung yang bakalan jadi calon istrimu, mamase. Semoga cepet sebar undangan deh ya, secara emang cita-citanya kan buat nikah muda.. :))

Yang terakhir, salah seorang temen SD saya. Saya gak punya sebutan apa pun buat dia, cuma namanya. Dan gak mungkin dong saya share namanya di sini. Nanti ketauan dong kalo dia jadi objek di post saya. Bisa gede kepala dia. Aahaha. So, lemme introduce him to you yeaa. Dia cowok pindahan ke SD saya saat itu. Dan underestimate dengan kemampuan orang sepertinya memang sudah jadi kebiasaan bawaan dari kecil buat saya. Dia pun gak luput dari itu. Saya underestimate dengan dia. Kurus tinggi, cuma satu sebutan yang pantes buat dia, tiang listrik. Tapi, saya gak mau mamanggilnya dengan sebutan itu, he has name and I called him with his name, so does he. Sejak kedatangannya di sekolah, dia bisa bergaul baik dengan para cowok, tidak dengan cewek. Ada aja kelakuannya yang bisa bikin musuhan, walaupun permusuhan sudah terjalin sejak dahulu kala, but he made it worst. Hehehe. Sampai akhirnya di tahun terakhir kami di SD, saya dan dia akrab, ralat, saya dan cowok-cowok jadi akrab. Alasannya? Saya tomboy, rumah saya paling jauh otomatis jadi yang paling belakangan dianter terus, dan saya easy-going, diajak kemana aja gampang. Well, memang dari dulu saya sudah jadi Duta Mureee.. Hehe.
Keakraban kita bukan karena ternyata kita liburan ke satu pulau yang sama, tapi juga karena obrolan kita nyambung. Saat itu saya duduk tepat di depan dia dan di antara para cowok-cowok. And it was fun for my last year in elementary school. Dan kemudian kami terpisah kembali. Dia melanjutkan SMP di kota seberang dan saya stay di kota yang sama. Tidak berarti kami putus kontak sama sekali. Setiap liburan sekolah, mau tau apa yang saya lakukan? Teleponan dengan dia. Bisa satu jam dan ngomongin hal-hal yang remeh-temeh. Ahahaha. Liburan sekolah jadi satu moment yang saya tunggu-tunggu karena saya bisa ngobrol panjang sama dia. And he was responsive. Yang saya suka memang dia responsif sama kelakuan saya. Dia gak pernah nolak dan selalu ceria setiap kali cerita. Entah tentang sekolah ataupun pacar-pacar pertamanya. Dan dia salah satu alasan kenapa saya melanjutkan SMA di kota yang sama dengannya. Ahaha, walaupun gagal buat bisa satu sekolah kembali dengan dia. Kemudian kita lost contact sampe di tahun akhir kuliah.
Suatu sore, ujlug-ujlug dia ngajak ketemuan. Akhirnya kita ketemu untuk pertama kalinya setelah hampir 7 tahun terpisah. Cuma berempat, 3 cowok dan saya cewek sendiri. Tapi, seperti biasa, no awkward moment karena dia yang paling jago mencairkan suasana dengan ngelirik segerombolan cewek-cewek di meja seberang. Atuhlaaahh. This womanizer emang ya. Ahahaa. Selanjutnya tetep ada sesi temu kangen, setiap Ramadhan. Satu tahun sekali, tapi kalo udah bareng tuh cowok-cowok saya bisa pulang tengah malem dan baju bau asep rokok. Never mind. :))
Apa yang bisa dikangenin dengan tipe cowok kayak gini? I don't know, saya cuma kangen masa-masa kita telpon-telponan ke nomor rumah, kangen denger cerita konyolnya, kangen denger dia curhat colongan, kangen liat muka kucelnya, kangen ngobrol sama dia sih pastinya. Saya cukup tau, saya bukan tipe nya dia. Dia pun cukup ngerti dan takut kena tendang dari saya. Sejauh ini, yang saya tau dia sayang banget sama adeknya, walaupun di sosmed suka ngomongin orangtuanya, saya tau dia respect banget sama keduanya. Saya gak bisa ngomong banyak, dia dan saya seperti ini sudah lebih dari cukup. Temu kangen lagi yuuk, puhleeaase.. ;)

Agak panjang ya posting kali ini.Ya namanya juga kangen, kangen sama objek ketiga sih yang pasti. Hihihi. So, this post dedicated for you, X. Me miss you..:))

Love, peace, and gaul~
F
Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~