Sunday, March 15, 2015

Page 74 of 365 : Penolakan

Well, beberapa jam yang lalu saya baru saja menolak permintaan seseorang untuk menjadi partnernya. I have decided since the beginning of comblang-makcomblang things. Dan untuk saat ini, saya rasa keputusan ini yang paling tepat. Semoga untuk waktu ke depan pun tetap begini.

Saya gak tau gimana kalo perempuan lain di posisi saya. Mungkin mereka minta waktu untuk berpikir ya? Dan kenapa saya bisa secepat itu mengambil keputusan? These are the reasons -- it's gonna be long list of the reasons...

Pertama, saya memang banyak cerita ke semua orang. Tapi, gak semua orang tau cerita terpenting dalam hidup saya. Papap, salah satu yang -- entah beruntung atau sial, tahu sisi 'gelap' dalam hidup saya. Dan si dia yang baru saja saya tolak sayangnya buta sama sekali tentang hal ini. Padahal ini salah satu informasi penting yang bisa dia pertimbangkan sebelum meminta saya jadi pendampingnya. Well, it's my choice to not tell him, exactly.

Kedua, he asked me to complete him, to make him understand how to handle woman with their hormonal things. Too bad, gak ada yang nganggep saya cewek seutuhnya. Dan saya pikir permintaan yang ini agak salah tujuan.

Tiga, dia bilang saya gak begitu feminin dan gak ribet. Man... It hurts my alter ego. I'm trying yaaa. Dan dia secara gak langsung melukai ego saya sebagai perempuan. Well, agak drama sih, tapi tak apeu lah saya kan drama queen.. :)))

Empat, he said he already didn't believe in love. Yang ini agak bingung sih, karena setengahnya saya juga gak begitu mengagungkan cinta. Tapi, yaaa gak mungkin juga memulai hubungan seumur hidup tanpa cinta dooong.

Lima, gak ada alasan khusus sih. I don't feel comfortable with him. Sejauh ini saya meng-iya-kan semua ajakannya cuma untuk menghilangkan awkward moment yang sempet ada gegara insiden tengah tahun yang lalu. At least, hubungan sosial di kantor gak ada yang buruk yaaa.

Daaan... Mungkin masih ada alasan-alasan lain. Seperti, saya gak suka ada di posisi yang menjadi pusat harapan besar dari orang lain. Toh sejauh ini saya selalu nurut sama kata-kata orang yang lebih tua. Izinkan saya untuk menjadi orang yang egois kali ini, menjadi sosok yang keras kepala dengan pilihannya, dan sosok yang sedang mencoba untuk tidak menyenangkan semua pihak. Mungkin saya tidak sebaik pencitraan yang selama ini saya buat. But, nothing's perfect, right? So do I.

So... Mari kita doakan semoga tidak ada hati yang terlalu hancur malam ini.

Good night, good people.

Love,
F

Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~