Sabtu, 17 September 2011, sekitar jam 11 malam.
Malam itu, saya tengah duduk di ruangan yang sama dengan ibu. Nemenin ibu nonton sinetron, ngeluarin kasur untuk tidur, dan sisanya saya asik di depan laptop berkelana di dunia maya.
Kemudian, kabar itu datang. Sesaat setelah ibu menutup rolling warung. Sesaat setelah saya berbalas comment dengan seorang sabeum dan seorang teman. Kabar meninggalnya Mbah Putri saya, Almh. Siti Maryatun. Dan ibu menangis sesekali.
Rasanya seperti kehilangan separuh jiwa. Seperti patah sayap sebelah. Seperti gugur daun terakhir.
Almh. Mbah memang sudah sakit sejak setahun terakhir. Setahun terakhir juga beliau tinggal bersama Bude di Jogja. Entah hanya saya, atau memang kami sekeluarga merasa kehilangan yang sangat besar ketika mendengar kabar malam itu.
Melihat ibu yang menangis sejadi-jadinya ketika menelpon Bude tertua, rasanya seperti hati ini disayat belati diperesin jeruk nipis, dikasih garam. Perih. Nyeri.
Dan malam itu juga ibu berangkat ke desa kelahiran Almh. Mbah, di Kebumen.
"Innalillahi wa inna ilaihi raojiuun.. Semoga Almh. dilapangkan kuburnya, diterima segala amal ibadahnya, dan diberikan ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan."
Selamat jalan, Mbah..
Cups~
FC
0 comments:
Post a Comment
Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~