Thursday, December 1, 2011

Jelang 22


Well, terpaksa saya bukakan di sini. Usia saya. Yang biasanya hanya saya tulis twenty-something, sekarang saya akan beritahu usia saya sebenarnya. Saya 21 tahun, lewat beberapa bulan. Dan untuk ke usia 22 tahun, angka dobel, masih berselang beberapa bulan lagi. Masih agak lama. Tapi, entah kenapa otak saya sudah ter-setting kalo usia saya itu lebih tua setahun daripada usia sebenarnya. Kenapa begitu?

Teman-teman seangkatan saya memang kebanyakan sudah menginjak usia ini. Dan saya, memang terlalu cepat ketika daftar di SD. Usia 5 tahun, kebanyakan anak-anak masih berkutat di TK kelas B, dan saya malah udah duduk di bangku kelas 1 SD dengan kemampuan membaca seadanya, kemampuan menulis cepat yang buruk, dan daya ingat yang lemah. Kasus usia 5 tahun masuk SD sih sekarang udah bukan hal yang aneh lagi, saya bahkan punya satu teman yang usianya di bawah saya 1 tahun. Dia masuk SD usia wajar, 6 tahun. Tapi, 2 kali masuk kelas akselerasi, pertama pas SMP dan kedua pas SMA. Sampe kuliah pun dia juga masuk program akselerasi. Berarti 3 kali ya, nevermind-lah.

Balik lagi ke saya yang selalu merasa tua sebelum waktunya. Dikelilingi orang-orang yang lebih tua dari saya memang sangat menyenangkan. Mereka semua berpikiran lebih dewasa dari saya. Dari yang menjadi tempat curhat, tempat gila-gilaan, sampe tempat nebeng. Hehee. Dan sampe di suatu saat ketika saya dihadapkan dengan masalah mimpi-mimpi dan harapan untuk di masa mendatang. Well, mereka yang usianya lebih tua dari sana dengan gampangnya menyebutkan semua yang mereka inginkan. Gak ada keraguan, gak ada kebimbangan. Saya begitu iri dengan mereka...

Sejak kelas 3 SMP, saya seperti kehilangan arah tujuan hidup. Sejak saat itu juga, ketika ada orang yang mempertanyakan perihal cita-cita, saya hampir tidak bisa menjawab dengan keyakinan hati 100%. Satu-satunya jawaban andalan saya adalah "menjadi orang yang bermanfaat bagi orangtua, agama, nusa, dan bangsa". Idih, emang saya siapa? Bisa-bisanya ngomong kayak gitu.. -_-"

Mungkin ini yang dinamakan "Krisis Tujuan Hidup" ya?

Bisa jadi. Saya ini terbiasa mengikuti keputusan orang tua. Apa-apa nanya ke orang tua.

Aku ambil SMA Jakarta apa Bekasi?
Aku ambil jurusan IPA apa IPS?
Aku boleh ikut ekskul Tae Kwon Do gak?
Aku disuruh ikut tanding, gimana ni?
Jadwal seleksi OSN Komputer sama TC buat pertandingan bentrok ni, aku ikut yang mana?
Kuliah apa gak setelah lulus SMA?
Kuliah dimana? Ambil jurusan apa?
Hari ini aku kuliah pake baju yang mana? Celana yang mana?
Ada ujian sabuk hitam, tapi barengan sama UTS, gimana?
Aku diajak tanding di luar kota, ikut gak?
Masa' aku diajakin bikin grup, isinya cowok-cowok semua, gapapa kan ya?
Aku gak ambil program akselerasi, soalnya takut gak sempet TC buat pertandingan, gapapa kan?
Aku diajak try out di Bogor, aku berangkat nanti sore boleh gak?
Topik skripsi ku apa ni enaknya?
Aku setahun gak ikut pertandingan, seminar proposal juga udah kelar, aku boleh ikut tanding lagi ya?
Agak annoying juga ya saya sebagai anak yang tukang nanya. Bukan, saya bukan tukang nanya. Hanya saja sejak kecil saya merasa perlu untuk mendiskusikan apa saja yang akan saya lakukan selanjutnya. Pernah gak sih dimarahin karena ngambil keputusan sendiri? Maksud saya, ketika saya tidak bertanya dan mencoba mengambil keputusan sendiri, orang-orang di sekitar saya malah lebih banyak komplain daripada menghargai keputusan saya. Dan lucunya, ketika di usia segini saya masih banyak bertanya pendapat orang, orang-orang sekitar saya malah berpendapat...
Lo yang ngejalanin, kenapa lo malah nanya gue?
Bhahaha! Padahal mereka yang menjadikan saya pribadi yang tidak bisa memilih, tidak bisa mengambil keputusan sendiri.

Menjelang akhir tahun dan menjelang usia 22 tahun saya yang masih agak lama, entah kenapa tiba-tiba saya berani mengambil keputusan tanpa bertanya ke orang tua dan orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Dan ketika saya ungkapkan niat-an saya untuk bulan Desember, muka ibu datar tanpa ekspresi. Itu bukan hal yang bagus. Apalagi terkesan seperti mengalihkan pembicaraan. Saya tau, keputusan saya tidak sejalan dengan ibu. Dan benar saja, di akhir perbincangan, ibu menutup dengan kata-kata pengharapan yang terlalu besar di bidang yang bertolakbelakang dengan niat-an yang telah saya putuskan dan saya tidak boleh mengecewakan semua orang dalam keluarga ini. Mom, don't you expect too much to me?

Setidaknya, dengan satu keputusan yang saya buat ini, saya belajar untuk bertanggungjawab dengan diri saya sendiri. Dan tentunya dengan pengharapan yang ibu ucapkan tadi siang, saya belajar (kembali) menyeimbangkan hidup antara hak dan kewajiban, antara disenangkan dan menyenangkan orang lain, antara keberhasilan dan kegagalan. I'll try it all.

Just wish me luck!

Cups~
Share:

0 comments:

Post a Comment

Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~