Ceritanya, 12 Desember 2011 yang lalu saya bertanding di satu event antar perguruan tinggi di Depok. Untuk bisa mendapatkan medali emas, saya harus berjuang di 4 partai pertandingan. Well, it was kinda hard to achieve the gold medal, I thought. Dan, kenyataannya emang begitu berat. Partai pertama saya bisa lalui dengan tanpa hambatan, bahkan tanpa lawan. Menang apa? Menang WO. Lawan didiskualifikasi karena berat badannya over. Dan partai berikutnya, saya berhadapan dengan universitas dari Bandung. Istilah katanya sih UNJ-nya Bandung. Haduh, ngadepin yang Jakarta aja belum kuat mental, apalagi ngadepin yang Bandung. Singkat cerita, saya kalah 8-0. Bukannya gak ngelawan, tapi ngangkat kaki pun gak ada powernya.. Iissshh!
Jadi, posting kali ini bukan ajang klarifikasi alasan kenapa saya kalah dan gak mendapatkan medali apapun, saya hanya berbagi kisah. Yang pasti, saya selalu ingat kata-kata satu orang teman saya..
Kalah ya kalah. Gak ada alasan lain buat kekalahan.
Ya emang bener. Saya mau nyalahin siapa? Apa ada alasan di balik kekalahan saya ini? Saya lebih percaya dengan alasan saya kalah karena kesalahan saya. Ya karena emang yang di matras itu saya. Ya karena emang yang ngadepin lawan itu saya. Ya karena emang yang ditendangin lawan itu saya. Bukan coach, bukan official, bukan manager, bukan supporter, ataupun wasitnya.
Kondisi badan pun setengah bermasalah waktu itu. Pertama, batuk mendera sejak minggu lalu yang diperparah dengan suara yang hilang di hari Sabtu dan Minggu, dan serak di hari H pertandingan. Kedua, ketika penimbangan, berat badan saya over 0.9 kg, dengan dampak harus jogging selama 2 jam untuk mendapatkan berat badan yang turun sebanyak 1.7 kg (agak kebanyakan juga nurunin berat badannya.. -_-"). Ketiga, ketika hari H pertandingan, hidung saya mampet, tanda-tanda flu. Selain hidung, kaki saya pun bermasalah, terasa agak berat dan lambat ketika pemanasan. Mungkin efek jogging 2 jam, karena selama latihan persiapan saya hanya melakukan skipping untuk pemanasan kaki. Keempat, ketika menjelang partai melawan kampus Bandung, tidak ada perasaan nervous. Agak aneh buat saya. Perasaan deg-degan menjelang pertandingan sama sekali gak ada. Saya yakin pasti ada yang salah dengan perasaan tenang seperti ini karena saya tipikal orang yang mudah panik. Saking tenangnya, di matras pun saya melakukan kesalahan yang sama ketika pertandingan kejurcab Juni lalu. Yaa gitu deh pokoknya...~
Yang saya tekankan di sini adalah kondisi badan yang kurang fit bukanlah alasan kekalahan untuk saya. Hanya saya-nya aja yang emang lagi gak jodoh sama medali. Medalinya bukan rezeki saya.
Dan satu hal yang agak lucu, saya mendapati 2 atlet yang saya tahu dulunya jagoan di kelas under 49 kg putri sekarang naik kelas ke kelas yang saya mainkan. Oh, well, nice!
Tiba-tiba pikiran konyol seperti ini suka datang sendiri tanpa diundang. Kelas Under 53 kg Putri sepertinya telah menjadi kelas-neraka-baru setelah Under 46 kg dan Under 49 kg Putri. Sekarang saya tinggal memilih: naikin berat badan untuk kelas Under 57 kg putri atau meningkatkan teknik kemampuan dan stamina supaya masih bisa bersaing di kelas-neraka? Nanti saja lah saya pikirkan jawabannya..
Mungkin udah saatnya saya untuk off di pertandingan antar mahasiswa. Entah kalo untuk antar senior. Saya masih menimbang-nimbang.
Ini lah buah dari keputusan saya yang tidak mendengarkan/meminta pendapat orang lain. I've made a wrong decision (again) and now, I'll try to not regret it..
Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih banyak belajar dari suatu kekalahan.
Cups~
F.
*Terima kasih dan maaf untuk:
- Dwi Hastuti yang turut turun (dan kalah juga :p) dalam pertandingan.
- Official dan manager (Dodi, Ayu, dan Seiva) yang setia nemenin di penimbangan dan hari H pertandingan.
- Coach yang akhirnya (dengan terpaksa :p) saya percaya untuk menemani saya di matras.
- Bima, Vita, Icha, Agung, dan Soleh yang rela datang untuk mendukung.
- Heru dan Mimo (2011) yang rela ditendangin selama masa persiapan.
- Fina yang percaya saya bisa membawa medali, walaupun faktanya ternyata saya tidak bisa merampok satupun medali, hehe. Thanks dukungannya, boy!
- Danang yang rela meladeni SMS galau pra-pertandingan saya, hehe. Thanks, semangatnya, mas!
- Semua teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas semangat dan dukungannya.
0 comments:
Post a Comment
Aku tanpa(komentar)mu, butiran debu~