Friday, March 14, 2025

Book 34, Chapter 3, Page 16

Yogyakarta, 25 Juli 2024

Kota yang tidak asing. Sepuluh tahun lalu sering menjadi tujuan pulang, tapi seperti tidak pulang. Tidak pernah merasa akrab dengan kota ini dan entah kenapa selalu merasa sepi di dalam hati. 

Malam masih terlalu muda untuk beristirahat. Beberapa rekan sudah tidak terlihat sejak matahari memasuki ufuk barat, tapi mereka terlihat dari balik layar ponsel. Beberapa rekan lainnya sibuk memilih tempat untuk dikunjungi saat waktu isya sudah berlalu. Antara wisata kuliner, wisata tempat hits, ataupun yang sekadar bergerombol jalan ke sana kemari. Kali ini, saya tidak dulu. 

Sejak memisahkan diri dari rombongan terakhir yang akan keluar penginapan, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri. 

Kenapa tidak ikut keluar? Kenapa sudah 3 daerah didatangi tahun ini tapi tidak pernah beli oleh-oleh untuk orang rumah? Kenapa memilih di kamar sendiri?

Sedari baru masuk kamar, sampai selesai mandi, sampai mau nonton streaming pun masih bertanya-tanya. Tapi semakin dipikirkan malah semakin berat untuk meninggalkan penginapan di gelap malam. 

Tiap orang memiliki pertimbangan masing-masing dalam mengambil keputusan, begitupun saya.

Love,

FC

Share:

Sunday, April 7, 2024

Book 33: Chapter 11, pg. 364

 28th Ramadan, 1445 H

Belakangan ini, saya merasa seperti bukan menjadi diri sendiri. Teringat kata-kata ibu di kala itu.

"Tetaplah menjadi diri sendiri, tidak perlu berubah hanya untuk disukai orang."

Well, ibu mungkin hanya khawatir anaknya berubah karena pergaulan, di mana di usia-usia awal 20 tahun memang agak rawan dengan pergaulan. Tapi saya kan gak terlalu bergaul. Bukan anti-sosial, tapi untuk bergaul, nongkrong, dan ngobrol hahahihi saat itu sepertinya butuh modal dan mobilitas yang gak sedikit. Sedangkan, saat itu urusan di rumah lebih menjadi prioritas. Muncul dalam kenangan, saya pernah menolak ajakan berbuka puasa di luar dari siapa pun ya karena satu lain hal yang membuat saya tidak seluasa itu meninggalkan rumah.

Apakah saat itu saya sudah menjadi diri terbaik versi saya?  Belum, dan saat ini pun belum. Tapi saya merasa saya sudah bukan diri saya di belasan tahun lalu, sepuluh tahun lalu, lima tahun lalu, bahkan di tahun lalu. Oh bukan, bahkan di bulan lalu.

Banyak hal yang berubah. Entah rutinitas, entah kebiasaan, entah cara berbicara, entah pola berpikir, entah cara bercerita, entah secara emosional, entah secara fisik, yah banyak yang berubah.

Mengutip quote dari Dosen Quality Management saat saya kuliah ...

"Good is not good enough, when better is expected."

Baik saja tidak cukup, jadi mari menjadi yang lebih baik.

Love,

M

Share:

Wednesday, October 14, 2020

Book 30, Chapter 7 : Page 188

Kalo ada yang bilang hidup saya sudah berada di titik aman, mungkin dia harus coba melihat dari sudut pandang lain. Well, bukan gak bersyukur dengan keadaan saat ini, tapi saya sungguh makin takjub dan kagum dengan Maha Besar Allah. Di satu sisi, saat ini saya seperti berada di titik teraman dalam hidup. Semuanya terjamin. Alhamdulillah tidak ada potongan penghasilan di masa-masa pandemi ini. Mau berangkat atau pulang kerja tidak perlu kesusahan dengan naik kendaraan umum. Masya Allah. Alhamdulillah. Nikmat mana yang perlu didustakan lagi?

Sekali lagi saya diberi nikmat yang menantang menjelang pergantian tahun. Tahun 2021 akan menjadi awal sebuah tugas dan wewenang yang penuh tanggungjawab dan amanah. Bisakah saya? Mampukah saya? Mau menolak pun lawannya berat. Ahaha. It feels like adrenaline rush. My heart skips the beat. Well. Look like I need more than a good luck. Iya lagi-lagi. Ahaha. Kayak deja vu tahun 2013 akhir ya gak sih?? Bedanya dulu saya di-underestimate, yaaa sekarang pun belum diakuin banget sih. Tapi tetep aja ada perasaan ketakutan gak bisa memenuhi harapan semua orang. Yeaah, inilah si Fatma yang maunya memenuhi harapan semua orang. Ahaha.

Bismillah yaa, gaeees! Pelan-pelan aja dilemesin, jangan dilawan. Huhu.

Love,

FC

Share:

Tuesday, November 7, 2017

Book 27 : Chapter 7 - 45 Lessons

Kali ini bukan tentang cecintaan. Tentang menghidupkan hidup yang lebih hidup (apeulah). 😄😄😄
Source nya masih dari pinterest, tapi langsung lari ke web yang share di pinterest. Topiknya tentang "45 Life Lessons". So, keep calm and enjoy it.
  1. Life isn't fair, but it's still good.
  2. Indeed. Hidup memang tidak adil, tapi Allah selalu adil.
  3. When in doubt, just take the next small step.
  4. Salah satu wejangan dari seorang senior "kalau ragu-ragu, jangan diambil". Gak jauh beda lah ya. Memang nantinya bakal berujung ke pilihan lain yang lebih sederhana tapi meyakinkan.
  5. Life is too short to waste time hating anyone.
  6. Yaaa karena cuma nambah-nambahin beban hati. Masih dalam proses belajar buat gak membenci walaupun ada aja yang bikin kezel. Akhirnya berujung untuk tidak banyak berinteraksi sama orang-orang yang cenderung bikin kezel. Demi ketentraman hidup orang banyak.
  7. Don't take yourself so seriously. No one else does.
  8. Karena hidup gak melulu tentang diri sendiri. Hati-hati baper.
  9. Pay off your credit cards every month.
  10. Well, so grateful. I don't have any of them. Tapi cicilan yang lain mah buaaanyyaaakk.. Haha.
  11. You don't have win every argument. Agree to disagree.
  12. Lagi-lagi, karena hidup gak melulu tentang diri kita sendiri. Dan dikata pendapat sendiri mulu yang paling bener? Belum tentuuu. Satu hal yang selalu diingetin sama ibu saya, "jadi perempuan jangan keras hati, jangan merasa pikiran dan pendapat sendiri yang paling benar. Harus bisa menerima perbedaan pendapat karena nantinya hidup gak cuma sendirian". Well done, mams. Ini yang paling berkesan di hati anak perempuan nomor 1 nya ibu yang paling keras hati.
  13. Cry with someone. It's more healing than crying alone.
  14. Definitely. Lebih cepet lega, lebih cepet tenang, lebih cepet ngantuk. Eh?
  15. Save for retirement, starting with your first paycheck.
  16. Ini paling penting sih, pelajaran karena emang udah kejadian di depan mata. At least, di hari tua gak nyusahin yang muda.
  17. When it comes to chocolate, resistance is futile.
  18. DEFINITELY!! Aaa, craving for chocolate.
  19. Make peace with your past so it won't screw up the present.
  20. Ba to the ngeeet. Bangeeet. Walaupun susah, tapi ini bukan hal yang gak mungkin. Cuma memang butuh effort lebih buat berdamai dengan masa lalu.
  21. It's OK to let your children see you cry.
  22. Nope. Sebagai orang tua nantinya, saya tidak mau hal ini terlihat oleh anak-anak saya. Bukan karena saya tidak mau terlihat lemah dengan menangis di depan anak, tapi lebih menjaga hati anak-anak saya nantinya.
  23. Don't compare your life to others'. You have no idea what their journey is all about.
  24. Definitely. Comparison is not going anywhere, yang ada cuma ngiri. Huh.
  25. If a relationship has to be secret, you shouldn't be in it.
  26. Yup. Pernah mau backstreet, tapi gak jadi karena berujung jadi rahasia umum. Lah saya kan ember orangnya. Haha.
  27. Life is too short for long pity parties. Get busy living, or get busy dying.
  28. Emangnya mau hidup cuma dikasihani sama orang? Beberapa tahun lalu, secara gak sadar saya ternyata terjebak dalam lingkungan yang mengasihani saya. Memang rasanya tuh kayak "waow, life is easier when people are pity with you". Kayak mau makan dibayarin, mau pulang dicariin tebengan, masih single dicariin pasangan. But, sekali lagi, emangnya mau hidup cuma dikasihani sama orang? Walaupun sebaik apa pun niat orang-orang di sekitar, tapi itu gak membuat saya berpikir how to survive by my own way. Bukannya menolak kebaikan orang, tapi ada baiknya juga kita yang berusaha untuk hidup sendiri.
  29. You can get through anything if you stay put in today.
  30. Prinsip saya sih mau sesulit apa pun jalannya, tapi itu bukan tidak mungkin untuk dilalui. Survival is sexy baby.
  31. A writer writes. If you want to be a writer, write.
  32. Mau jadi orang kaya yaa usaha jadi kaya, mau dinikahin sama cowok mapan ya usaha juga memantaskan diri buat yang mapan. Ujung-ujungnya si usaha ya. Kalau mau doang mah... ke laut aja sana.
  33. It's never too late to have a happy childhood. But the second one is up to you and no one else.
  34. So what kalo masa kecil kurang bahagia? Saya masih bisa main hujan-hujanan kok walaupun udah bangkotan gini. Sakarep me laaah. Ra urus sama pikiran orang.
  35. When it comes to going after what you love in life, don't take no for an answer.
  36. "Iya-in aja dulu". Ini juga salah satu petuah dari senior.
  37. Burn the candles; use the nice sheets; wear a fancy lingerie. Don't save it for a special occasion. today is special.
  38. Karena "suasana" itu dibuat bukan dicari. #buatyangngertiaja
  39. Overprepare, then go with the flow.
  40. Buat tipikal spontaneous seperti saya, mungkin kita lebih cocok buat ikutin alur doang. Siap gak siap ya harus siap.
  41. Be eccentric now. Don't wait for old age to wear purple.
  42. Purple lovers mana suaranyaaaa?
  43. The most important sex organ is the brain.
  44. DEFINITELY!
  45. No one is in charge of your happiness except you.
  46. Couldn't agree anymore.
  47. Frame every so-called disaster with these words: "In five years, will this matter?"
  48. Well, it definitely will matter. Entah bakal jadi pelajaran, atau bakal jadi kenangan.
  49. Forgive everyone everything.
  50. Agak susah yaaa. Yang ada mah forgive but not forget.
  51. What other people think of you is none of your business.
  52. Hell yeah. Sabodo teuing orang mau ngomong apa.
  53. Time heals almost everything. Give time time.
  54. Indeed. Gapapa jomblo 5 tahun, yang penting hati ini sudah benar-benar pulih. Tsaileee~
  55. However good or bad a situation is, it will change.
  56. Yang tadinya baik jadi gak baik, yang tadinya buruk malah jadi baik. Fleksibel aja sama perubahan. Satu hal yang pasti adalah ketidakpastian. #kusut
  57. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.
  58. Pengalaman pribadi sih your friends doesn't really care juga. Tapi, stay in touch is a must yaaa.
  59. Believe in miracles.
  60. Believe in Allah.
  61. Whatever doesn't kill you really does make you stronger.
  62. Indeed. I am now stronger than I am 5 years ago.
  63. Growing old beats the alternative - dying young.
  64. Tua mah pasti, dewasa itu yang pilihan. Tsedaaaap.
  65. Your children get only one childhood. Make it memorable.
  66. Indeed. Nantinya jadi orangtua pasti maunya yang serba terbaik buat anak. Yaa kalo kurang-kurang happy dikit, sok silahkeun balik ke point 17.
  67. Get outside everyday. Miracles are waiting everywhere.
  68. Ketemu orang baru, situasi baru, kenalan baru, ciyeeee. Lah apeu?! Haha. Cerita dikit ya, saya ketemu dan kenal dan kemudian jadi deket sama Ebeib karena satu saat yang lalu saya memutuskan untuk ikut ke undangan temen di Bogor, yang mana saya udah males duluan mikirin ke sana nya bakal naik apa. Eh, emang udah suratan takdir kali ya mempertemukan kita dalam situasi yang kalo kata Ebeib mah lucu, kalau kata saya sih nyebelin. Haha.
  69. If we all threw our problems in a pile and saw everyone else's, we'd grab ours back.
  70. Indeed. Daripada selesaiin masalah orang kan yaa mending ngadepin masalah sendiri. Beda halnya kalau dengan bantu ya, kalo bantu sih insya Allah dibantu sesuai kapasitas saya. Ahseek!
  71. Don't audit life. Show up and make the most of it now.
  72. Begini salah dan begitu benar menurut saya cuma teori. Pada kenyataannya, yang benar memang benar, yang salah yaaa belum tentu sepenuhnya salah. Why so serious? Keep calm and the show must go on~
  73. Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.
  74. Yang kurang berguna dan kurang menyenangkan boleh lah disingkirkan, tapi kalo mengenai beautiful kayaknya tergantung presepsi masing-masing orang deh ya.
  75. All that truly matters in the end is that you loved.
  76. If it matters, then it's love.
  77. Envy is a waste of time. You already have all you need.
  78. Definitely. Ngebandingin hidup sendiri dan hidup orang lain itu bikin capek hati. Si ini udah ke sana, kita masih stay di tempat aja; si anu udah married 2 anak tinggal di rumah hadiah dari orang tua, lah kita single tinggal di kost-an dan gak tau married kapan. Bok, capek gak sih ngitungin kepunyaan orang mulu. Kalo Aim sih capek.
  79. The best is yet to come.
  80. Because good is no good enough, when better is expected. Nah eta, kusut kusut dah mikirinnya.
  81. No matter how you feel, get up, dress up, and show up.
  82. Karena orang lain gak peduli apa yang kita rasa. Apa pun yang lagi dirasa, balik lagi the show must go on.
  83. Take a deep breath. It calms the mind.
  84. Definitely.
  85. If you don't ask, you don't get.
  86. Malu bertanya sesat di jalan. Malu meminta, ya gak dapet apa-apa. Mintanya juga jangan celamitan yee.. Ahaha.
  87. Yield.
  88. Yeah.
  89. Life isn't tied with a bow, but it's still a gift.
  90. So don't wasting your time to unnecessary things. Value your life.
And it's the end of this post. Maap-maap kalo ada perbedaan opini mengenai point-point di atas, lah itu kan semua menurut saya. Belum tentu sama dengan yang lain. Well, keep calm and life must go on and on and on and on~

Love,

Share:

Monday, October 30, 2017

Book 27 : Chapter 7 - 13 Questions

So sorry for long time no post yaa.
Mungkin nanti ke depannya akan lebih sering posting dengan menjawab random questions yang saya temui di internet. Biasanya sih nemu di pinterest atau di twitter, atau bisa jadi dari percakapan random sehari-hari.


  1. What is their absolute dream job?
  2. Well paid traveler. Ahaha. Ini mah maunya istrinya. Tapi udah kebaca banget sih kalo si Ebeib ini memang lebih suka udara terbuka dan explore tempat wisata yang masih jarang dikunjungin wisatawan.
  3. How do they feel about marriage/kids?
  4. Ketika baru pacaran seumur jagung, gak pernah terbesit buat tanya Ebeib mengenai ini karena dia termasuk cowok yang cuek banget. Tapi begitu udah punya mau, harus diturutin. Sama kayak halnya pernikahan kami, dia yang ngebet (walaupun gak sedikit orang yang ngira kalau saya yang ngejar-ngejar Ebeib buat dinikahin). Karena menurut dia kalau udah cocok dan sepemikiran kenapa harus ditunda, nanti malah diambil orang (oke, ini kata-kata tambahan dari saya hahaha). Dia gak pernah mempersulit semua proses dan gak mau berlebihan. Yang paling penting semuanya dikembalikan ke saya, maksudnya kalau mau ambil keputusan gak pernah mau sepihak, pasti didiskusikan sama saya yang berujung menjadi diskusi keluarga. Hehehe. Persoalan anak? Semua orang yang kenal dia juga tau, seberapa kepengennya dia buat ngemong anak.
  5. What do they love/hate about their family?
  6. He loves his family, totally. No matter what, keluarga buat dia prioritas #1. Gak pernah mau bikin kecewa, selalu mendahulukan kepentingan kakak-kakaknya, sayang sama keponakan-keponakan. Karena terlahir menjadi anak bontot membuat dirinya selalu disayang atas bawah depan belakang kanan kiri. Gak ada alasan buat dia untuk membenci keluarganya.
  7. Where do they want to settle down?
  8. Di rumah tepi hutan, mungkin cocok buat dia.
  9. What's their medical history?
  10. Pernah kena typhus pas kuliah sampai rawat inap di rumah sakit.
  11. What's their financial situation?
  12. Not really settled, but we fight it together.
  13. What makes them laugh the most?
  14. Ketika dia di luar ruangan. Di laut, di hutan, di perjalanan. Dia selalu tertawa, ngetawain saya tepatnya.
  15. What's their biggest sexual fantasy? Passed
  16. Who is their BFF?
  17. Temen-temen basketnya pas SMA. I think they are the most BFF of him.
  18. How does your partner like to be comforted?
  19. Diusap-usap punggungnya.
  20. How often do they want a date night?
  21. Not really much. Dia sukanya pagi/siang. Kena matahari, berkeringat.
  22. Do they like surprises?
  23. Yes, he likes the surprises so much.
  24. What's their biggest weakness?
  25. Perhitungan. Sudah menjadi rahasia umum.
Well, I'm done with these questions. How's yours?

Nantinya isi pertanyaannya gak cuma tentang cecintaan doang. Siapa tau tentang hidup. Siapa tau tentang kerjaan. Well, who knows?

See you next post. Keep calm and hey... it's getting late for going home.
Ciao.

Love,

Share: